Home diagnosis Mengetahui Diagnosis Penyakit Asma

Mengetahui Diagnosis Penyakit Asma

145
0
SHARE
diagnosis asma

Bagi sesorang yang diperkirakan memiliki penyakit asma perlu datang kedokter untuk memastikan apa benar mengidap asma atau tidak, dengan diagnosa dari dokter akan membantu mengetahuinya. Untuk memperoleh diagnosa dokter akan melakukan beberapa tes, akan tetapi sebelum tes ini dijalankan, dokter seperti biasanya akan memberikan pertanyaan kepada sipenderita mengenai gejala yang dirasakan , contohnya saja, anda sering mengalami sesak napas pas waktu apa…?, apa anda sering mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis – manis di pinggir jalan atau ditoko – toko…? Dan masih ada beberapa pertanyaan yan akan ditanyakan apabila pertanyaan tersebut masih belum cukup.

Apabila jawaban – jawaban yang diberikan dirasa mengarah ke penyakit asma (positif), selanjutnya dokter akan memberikan pertanyaan waktu munculnya gejala penyakit asma. Dan yang paling penting dokter juga akan menanyakan apakah sipasien tersebut mempunyai keluarga yang mempunyai penyakit asma dari garis keturunannya.

Apabila dari seluruh jawaban yang dikatakan oleh sipasien mengarah pada penyakit asma tersebut, yang selanjutnya perlu dilakukan pemeriksaan secara fisik dan tes yang akan dilakukan di laboratorium. Tes laboratorium ini tujuannya untuk memperkuat bukti atau hasil diagnosa. Biasanya tes laboratorium yang dilakukan adalah spirometri. Pada tes spirometri dokter akan meminta pasien untuk menarik napas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya secepat mungkin ke sebuah alat khusus yang bernama spirometer.

Tes ini bertujuan untuk mengukur kinerja paru-paru dengan berpatokan pada volume udara yang pasien hembuskan dalam satu detik dari jumlah total udara yang dihembuskan sipasien. Apabila ada hambatan pada saluran pernapasan yang kemudian dirasa mengarah pada penyakit asma akan dapat diketahui oleh dokter setelah melihat dan membandingkan beberapa data yang diperoleh dari tes – tes yang telah dilakukan.

Selain asma bisa diketahui menggunakan metode spirometri. Cara selanjutnya menggunaka alat inhaler, apabila setelah diberikan inhaler dan keadaan pasien hasilnya menjadi lebih baik, dapat dipastikan pasien menderita penyakit asma.

Selanjutnya ada tes lagi yang bisa dipergunakan untuk mendiagnosa penyakit asma yaitu tes kadar arus ekspirasi puncak. Tes ini dibantu dengan suatu alat khusus yang bernama peak flow meter (PFM) , kecepatan suatu udara dari paru-paru tiap sekali hembus yang dilakukan pasien akan dilakukan pengukuran untuk memperoleh data tingkat arus ekspirasi puncak.

Dokter akan menyarankan kepada sipasien untuk membeli alat PFM untuk dipergunakan sendiru di rumah, selain itu pasien dianjurkan untuk membuat sebuah catatan PEFR tiap harinya, dan juga pasien akan dianjurkan untuk mencatat tiap gejala penyakit asma muncul untuk memperoleh data yang akurat.

PENTING

Apabila sipasien merasa bahwa gejala asma sembuh ketika sedang tidak melakukan rutinitas seperti berkerja, kemungkinan besar pasien menderita penyakit asma yang berhubungan dengan lingkungan pekerjaannya, mungkin karena banyaknya debu yang berada di pekerjaanya, atau tempat dia berkerja terdapat suatu zat yang tidak baik, dan dapat memicu kambuhnya penyakit asma. Ini sering terjadi pada tiap orang yang bekerja sebagai pegawai pabrik pengolahan bahan kimia, tukang cat gedung atau rumah, tukang disuatu pabrik las, dan masih banyak lagi conto yang lain.

Untuk mendukung semakin kuatnya diagnosis, dokter akan meminta sipasien untuk melakukan tes aliran ekspirasi puncak (PEFR) menggunakan peak flow meter (PFM), yang kan di lakukan di tempat bekerja bahkan di luar lingkungan kerja. Tapi cara ini masih terbilang jarang dilakukan, guna memperoleh hasil yang lebih baik cara ini akan menjadi perlu.

Apabila dalam jarak satu tahun Anda sering mengalami penyakit asma pada saat anda berada di tempat kerja, lebih baik anda cari pekerjaan yang lain, seperti berjualan disuatu toko.

TES ATAU DIAGNOSIS TAMBAHAN

Selain kedua tes di atas, spirometri dan tes kadar arus ekspirasi puncak, ada beberapa beberapa tes lain yang mungkin diperlukan untuk memperkuat diagnosis penyakit asma, dan berguna untuk membantu mendeteksi penyakit selain penyakit asma.

Beberapa tes tambahan :

  • Pemeriksaan status alergi pasien : ini dilakukan untuk mengetahui gejala-gejala asma yang dialami pasien disebabkan oleh alergi atau bukan
  • CT Scan. Pemeriksaan ini dilakukan dokter dengan catatan dokter mencurigai bahwa gejala sesak napas atau asma pada pasien bukan disebabkan oleh penyakit asma, melainkan suatu infeksi yang terdapat di dalam paru-paru atau kelainan.
  • Pemeriksaan rontgen : Pemeriksaan ini sebenarnya sama seperti pemeriksaan CT Scan, untuk melihat apakah gangguan pernapasan tersebut (asma) disebabkan oleh kondisi lain atau bukan.
  • Tes melihat suatu adanya peradangan pada saluran pernapasan : Dokter akan mengukur kadar oksida nitrat dalam napas pada saat pasien bernapas, apabila kadar oksida tinggi, sdah dipastikan adanya peradangan pada saluran napas.
  • Tes xampel dahak : Dokter biasanya juga akan melakukan mengambil xampel dahak pasien untuk mengecek apakah paru-paru mengalami radang atau tidak.
  • Tes responsivitas saluran napas (uji provokasi bronkus) : Digunakan untuk memastikan apakah saluran pernapasan pasien bereaksi ketika terpapar oleh zat pemicu asma. Pasien disuruh menghirup serbuk kering ( bernama mannitol), kemudian pasien diminta untuk menghembuskan napas sekuat – kuatnya ke dalam alat yang bernama spirometer untuk mengukur tingkat perubahan FEV1 dan FVC setelah terkena pemicu tersebut tinggi atau tidak. Bila hasilnya turun, maka pasien sudah positif mengidap asma.